Minggu, 08 Maret 2009

Dia, yang memberi senyuman

Dia, sebuah senyuman diperuntukkan bagi saya untuk kesekian kalinya. Dia seperti yang saya tulis sebelumnya sangat menyukai senyum. Salah, mungkin yang benar adalah sangat senang melakukan kegiatan tersenyum. Entah kenapa setiap saya melihat dia, pasti dia sedang tersenyum. Dia, berbeda dengan yang lainnya yang mungkin juga senang tersenyum. Dia, tersenyum tidak hanya untuk membahagiakan dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Senyumnya ikhlas tak tergores suatu apapun. Tidak seperti yang lainnya yang juga senang tersenyum untuk meraih sesuatu, dia hanya tersenyum. Tidak seperti yang lainnya yang hanya tersenyum demi sebuah kewajiban dan tanggung jawab, dia hanya tersenyum. Dia, memanjakan semua orang dengan senyumannya. Dia, mengajarkan saya arti dari sebuah senyuman. Senyuman yang bermakna bukan hanya sekedar senyuman. Senyuman bermakna seharusnya dapat memberikan aroma segar kepada orang lain yang melihatnya sampai kapanpun, membekas, terpatri dalam hati. Dia memberitahu saya sebuah senyuman yang tak lekang oleh waktu dapat mengubah hidup yang lainnya. Dia menuntun saya dari yang tak tahu menjadi tahu sebuah makna dari senyumnya.

Senin, 23 Februari 2009

Dia, sang pembeda

Lagi-lagi cerita tentang dia.
Saya dan dia berasal dari dunia yang berbeda atau mungkin tepatnya dari satu tempat yang berbeda. Tidak secara gamblang berarti saya di alam nyata dan dia ada di alam semu. Hanya yang jelas selalu terdapat jarak antara saya dan dia baik dalam bentuk waktu maupun tempat.
Dia adalah satu sosok pembeda bagi saya. Pembeda bagi segalanya tepatnya.
Dia selalu menawarkan saya suatu titik lain dari satu garis panjang yang telah banyak dititikki oleh orang lain.
Karena itu saya ingin mengucapkan banyak terima kasih pada dia karena dapat membawa pikiran saya ke titik lain yang dimana dapat membuat saya lebih baik

Kamis, 08 Januari 2009

If Tommorow Never Comes

Kadang-kadang saat pikiran saya sedang kosong sering terbersit di benak saya bagaimana jika saat ini adalah hari terakhir bagi saya. Kadang terpikir apakah yang sudah saya lakukan sampai saat ini sudah pantas dibawa ke sana? Dan pastinya hati kecil saya akan langsung berbisik ”belum sama sekali”. Jika pikiran itu muncul yang ada di benak saya hanya kebodohan serta perasaan akan waktu-waktu yang hilang karena saya tidak benar-benar menjalani hidup saya ini dengan baik.
Mungkin menjalani hidup dengan baik itu relatif bagi setiap orang. Tapi menurut saya sebagian besar orang akan selalu merasa bahwa kehidupannya belum berjalan dengan baik.

Yah, saya di sini tidak akan membahas baik dan buruk suatu kehidupan menurut pendapat saya karena saya pun tidak tahu seperti apakah kehidupan yan baik itu. Sampai saat ini sayapun hanya merasa saya belum dapat menjalani kehidupan saya dengan baik tanpa tahu (atau pura-pura tidak tahu) mana yang salah.

Di sini, saat ini, saya hanya ingin berbagi apa saja yang ingin sudah saya lakukan ketika besok tidak akan datang lagi untuk saya.
1. Meminta maaf kepada semua orang.
Saya merasa hanya dalam 18 tahun ini saja saya sudah membuat banyak kesalahan baik yang merugikan maupun yang hanya mengecewakan orang lain

2. Mengungkapkan perasaan saya kepada beberapa orang yang sampai saat ini belum terlaksana
Saya ingin agar orang-orang tersebut tahu perasaan saya, baik yang baik maupun yang buruk. Siapa tau orang-orang tersebut dapat mengambil sesuatu yang berharga dari kejujuran saya ;)

3. Membaca 30 juz Al-Quran beserta arti dan tafsirnya
Amin

4. Membanggakan orang-orang yang mendukung saya, orang-orang yang selalu ada ketka saya butuhkan

5. Keliling Indonesia
Saya ingin sekali bisa merasakan aroma dua musim yang berbeda dari timur hingga barat. Menurut saya nilai dari keliling dunia tidak setinggi nilai dari mengelilingi negara saya sendiri ;)

6. Menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari pendidikan akademik saya dan dari luar pendidikan formal saya

7. Bersama dia. Dia, seseorang yang dapat membuat saya bahagia ketika saya sedih dan menambah kebahagiaan saya saat saya berbahagia

Untuk saat ini yang terpikir oleh saya hanya ketujuh keinginan tersebut. Sebagian dari keinginan tersebut masih sangat abstrak tidak terlalu jelas arahnya kemana karena sejujurnya saya belum siap jika besok tidak datang lagi pada saya. Saya harap saya masih diberikan waktu untuk menyempurnakan keinginan-keinginan tersebut.
Semoga anda sudah siap untuk menyambut hari itu. Kalau pun belum saya tau anda pasti sudah mulai menyiapkan diri anda untuk menghadapi hari tersebut. Hari dimana tidak akan datang hari esok.
Amin

Kamis, 01 Januari 2009

Tahun baru, Awal kehidupan baru

Aku bingung
Antara atas dan bawah
Atas menawarkan emas dan perak
dengan segala kehormatan tertinggi
Suatu kehidupan yang bersinar bagai berlian
Sedangkan bawah memberikan
Sejumput perunggu dan sepinggan tanah
Suatu kehidupan yang tertutup harum tanah

Atau mungkin lebih baik diantaranya?
Agar aku bisa merasa keduanya?
Atau mungkin diatas yang diatas
Atau dibawah yang dibawah?


hehe kadang gw suka bingung aja sama hidup gw. Kadang gw suka gimana gitu kalo ngeliat suatu kehidupan yang di atas gw. Mungkin iri? mungkin kali ya. Gw jadi suka kayak ngerajuk aja kenapa hidup gw sendiri ga kyk gitu. kenapa mereka bisa mudah sedangkan gw harus susah-susah dulu.
Yah, tapi biasanya abis itu gw langsung ingat sama kehidupan-kehidupan yang jauh di bawah gw di luar sana. Terus biasanya gw langsung mikir "tuh ran, masih banyak bgt di luar sana yang hidup susah, ngapain juga lo mesti iri sama hidup lo". Ya mungkin ini juga suatu bentuk pembelaan diri dari rasa iri gw kali ya.
Makanya kadang gw selalu mikir gw ini adalah orang dengan kehidupan yang ada di tengah-tengah mereka. Gak terlalu seneng bgt tapi juga ya gak susah-susah amat.
Ya, mungkin emang gw harus lebih bersyukur apalagi ini tahun yang baru. Awal kehidupan yang baru dan juga jalan yang baru buat gw untuk memutuskan kemana jalannya kehidupan gw. Mungkin diatas, dibawah, ataupun di tengah.

Happy New Year ;)

Jumat, 19 Desember 2008

senaang ;)

senang karena UAS telah selesai
senang karena bisa kembali ke rumah
senang karena bisa santai sampai februari
senang karena liburan
senang karena ingin melakukan hal-hal baru
senang karena lepas dari begadang sepanjang UAS
senang karena akan bertemu orang-orang baru
senang karena sedang menunggu besok yang lebih ceria ;)

Selasa, 09 Desember 2008

dia aku

Dia
bimbang
Aku
ragu
Aku dan dia
Layaknya bintang yang mengambang di langit sana
Menunggu ada yang melihat
Karena sinar lampu memenuhi

Dia, yang saya tunggu

Kembali lagi topik tentang dia.
Beberapa hari yang lalu saya melihat dia. Mungkin dia sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Bedanya dia sekarang ini telah berubah. Mungkin karena terseret arus zaman atau mungkin memang sudah seharusnya dia berubah. Sebelumnya, dia hanya mendatangi saya, tersenyum malu-malu sambil menggerakkan tangannya kesana kemari. Namun, sekarang sudah tidak terlihat lagi rasa malu itu. Dia menatap saya dengan tegasnya, kembali menggerakkan tangan dengan gerakan yang lebih kuat. Dia juga mulai berbicara dengan bahasa aneh. Yang jelas bukan bahasa indonesia. Saya pikir dia belajar dengan tetangga sebelah.
Dia, sejujurnya saya juga bingung ingin mendeskripsikannya. Namun dia selalu saya tunggu kedatangaannya saat saya sedang bosan menunggu

yay

hari ini gw senang sekali.hehe.
Banyak kejadian tidak terduga seharian ini.

Hr kamis UAS semoga semua yang mengikuti UAS sukses

Amin.

9desember2008

Selasa, 02 Desember 2008

Ini Garisan Pertama

Jalan itu masih panjang
Berliku
Ini garisan pertama
Kau jatuh?
Tidak!!!
KAU BANGKIT!!!
Tutup mata dan telinga
Hanya lihat dan dengarkan kau
Bintang lain merah membara
Tapi belum kau
Ini garisan pertama


Saya merasa jatuh karena masih belum bisa

Dia, saat perasaan tidak terakui

Sekarang saya sedang ingin bercerita tentang dia.
Dia adalah seseorang yang sangat berarti bagi saya. Sayangnya saya hampir tidak pernah mengungkapkan rasa sayang saya pada dia. Memang semua ini berawal dari satu ikatan yang tidak dapat saya dan dia pungkiri. Mungkin rasa sayang saya pada dia juga hadir karena ikatan itu. Tapi, yang saya lihat, baik saya maupun dia tidak pernah secara jujur untuk mengakuinya. Saat bertemu, jika tidak bertengkar, saya dan dia hanya terdiam, sibuk dengan urusan saya dan dia masing-masing.
Ya, saya menyayanginya. Bagi saya dia menempati sudut hati saya yang tidak mungkin tergantikan oleh siapapun. Mungkin, jika saya dan dia berpisah nanti saya akan sangat merasa kehilangan. Waktu bertemu yang semakin singkat sekarang ini saja membuat saya merasa kehilangan. Sejujurnya saat saya sedang jauh dari dia, saya tidak merasakan kehilangan, tapi saat saya kembali bertemu dengan dia saya menjadi sangat melankolis, terhanyut oleh perasaan kehilangan yang baru saya sadari.
Saya hanya berharap suatu saat saya dan dia dapat saling mengakui perasaan masing-masing sehingga saat nantinya tiba waktu saya dan dia berpisah untuk mencari kehidupan kami masing-masing, tidak akan ada rasa menyesal yang tertinggal.

Bagi anda, dia mungkin bisa berarti siapa saja. Tapi bagi saya, dia adalah satu orang yang sangat berarti bagi saya.